Yeremia Rante Ada on September 16th, 2013

Dalam managemen K3 dikenal istilah :
1. Hazard
2. Risiko.
Hazard adalah segala sesuatu yang berpotensi menyebabkan bahaya. Adapun Risiko adalah kemungkinan terjadinya sakit, cidera atau bahkan kematian karena hazard.
Prinsip K3 yaitu : upaya untuk mengendalikan risiko yang berkaitan dengan kegiatan kerja, guna terciptanya tempat kerja yang aman, efisien dan produktif.
Tujuan Manajemen Risiko yaitu mencegah dampak buruk yang dapat terjadi di tempat kerja yaitu timbulnya penyakit akibat kerja atau mencegah terjadinya kecelakaan kerja.
5 Steps of Risk Assessment untuk mengurangi hazard dan menurunkan risiko, yaitu :
– Langkah 1 : Kenali hazard
– Langkah 2 : Menentukan siapa saja yang berpotensi dalam bahaya dan bagaimana menghadapinya
– Langkah 3 : Evaluasi risiko & menentukan apakah peringatan yang ada sudah adekuat & apa yang akan dilakukan kemudian
– Langkah 4 : Cacat, laporkan & implementasikan
– Langkah 5 : Buat rangkuman penilaian & revisi bila perlu

Yeremia Rante Ada on July 26th, 2011

Apa itu Hiperkes ??? Pertanyaan ini sering dilontarkan oleh beberapa orang yang saya temui ketika saya mengatakan bahwa kami mempelajari tentang Hiperkes & Keselamatan Kerja.

Kata Hiperkes sebenarnya singkatan dari Higiene Perusahaan dan Kesehatan Kerja. Hiperkes merupakan penggabungan dari higiene perusahaan dan Kesehatan Kerja. Higiene perusahaan (higiene industri, higiene okupasi, higiene kerja) (industrial-occupational hygiene) adalah spesialisasi dalam ilmu higiene beserta prakteknya yang lingkup dedikasinya adalah : mengenali, mengukur, dan melakukan penilaian (evaluasi) terhadap faktor penyebab gangguan kesehatan atau penyakit dalam lingkungan kerja dan perusahaan. Hasil pengukuran dan evaluasi demikian dipergunakan sebagai dasar tindakan korektif serta guna pengembangan pengendalian yang lebih bersifat preventif terhadap lingkungan kerja/perusahaan. Dengan menerapkan higiene perusahaan kesehatan tenaga kerja dapat dilindungi dan masyarakat sekitar suatu perusahaan terhindar dari bahaya faktor lingkungan yang mungkin diakibatkan oleh beroperasinya suatu perusahaan. Jelas sifat-sifat higiene perusahaan :

  1. Sasaran adalah lingkungan kerja;
  2. Bersifat teknis-teknologis

Adapun Kesehatan Kerja adalah spesialisasi dalam ilmu kesehatan/kedokteran beserta prakteknya yang bertujuan agar pekerja/masyarakat pekerja memperoleh derajat kesehatan sebaik-baiknya (dalam hal dimungkinkan; bila tidak, cukup derajat kesehatan yang optimal), fisik, mental, emosional, maupun sosial, dengan upaya promotif, preventif, kuratif, dan rehabilitatif terhadap penyakit/gangguan kesehatan yang diakibatkan oleh pekerjaan dan/atau lingkungan kerja, serta terhadap penyakit pada umumnya. Jelas sifat-sifat kesehatan kerja :

  1. Sasaran adalah manusia;
  2. Bersifat medis/kesehatan

Penggabungan higiene perusahaan dan kesehatan kerja (Hiperkes) dalam satu kesatuan upaya berarti tergalangnyasinergi dari dua disiplin medis dan teknik secara serasi, sehingga terbuka peluang kedua golongan profesi dan keahlian yang sangat berlainan itu berbaur dan bekerjasama dan merupakan conditio sine quanon (syarat mutlak) untuk keberhasilan penyelenggaraan higiene perusahaan dan kesehatan kerja (Hiperkes). Semboyan yang patut dipakai dan harus diwujudkan sebagai kenyataan dalam kebijakan dan aplikasinya di lapangan :

” Higiene Perusahaan dan Kesehatan Kerja (Hiperkes) adalah kerjasama antara stetoskop dan mistar hitung.”

Hakekat higiene perusahaan dan kesehatan kerja (Hiperkes) adalah :

  1. Sebagai alat untuk mencapai derajat kesehatan tenaga kerja seoptimal mungkin (dalam hal tertentu mungkin setinggi-tingginya, seandainya kondisi yang diperlukan cukup memadai), pada pekerja/buruh, petani, nelayan, pegawai negeri, pengusaha, manajer atau pekerja bebas di semua sektor kegiatan ekonomi dan non ekonomi formal, informal  serta non formal; dengan demikian dimaksudkan untuk tujuan mensejahterakan tenaga kerja;
  2. Sebagai alat untuk meningkatkan produksi dan produktivitas, yang berlandaskan kepada perbaikan daya kerja dan produktivitas faktor manusia dalam produksi.

Keselamatan Kerja adalah keselamatan yang berkaitan dengan mesin, pesawat, alat kerja, bahan dan proses pengolahan, landasan kerja, dan lingkungan kerja serta cara-cara melakukan pekerjaan dan proses produksi. Keselamatan kerja merupakan tugas semua orang yang berada di perusahaan. Dengan demikian keselamatan kerja adalah dari, oleh, dan untuk setiap tenaga kerja dan orang lain yang berada di perusahaan serta masyarakat sekitar perusahaan yang mungkin terkena dampak akibat suatu proses produksi industri. Dengan demikian jelas bahwa keselamatan kerja adalah merupakan sarana utama untuk mencegah terjadinya kecelakaan kerja yang dapat menimbulkan kerugian yang berupa luka/cidera, cacat atau kematian, kerugian harta benda dan kerusakan peralatan/mesin dan lingkungan secara luas.

Demikian uraian singkat tentang Hiperkes & Keselamatan Kerja.

(Sumber: 1. DR. Suma’mur P. K, 2009. Higiene Perusahaan dan Kesehatan Kerja (Hiperkes). Sagung Seto; 2. Tarwaka, PGDip. Sc., M. Erg, 2008. Keselamatan dan Kesehatan Kerja. Harapan Press)

Kamis, 7 Juli 2011 bertempat di kampus Prodi D.III Hiperkes & Keselamatan Kerja Fakultas Kedokteran UNS (Komplek Tirtomoyo Jebres) telah diadakan kegiatan Kuliah Umum. Kegiatan ini merupakan salah satu bentuk kerjasama antara Prodi D.III Hiperkes & Keselamatan Kerja FK UNS dengan PT. Cipta Kridatama sebagai salah satu perusahaan yang bergerak di bidang pertambangan yang care terhadap pelaksanaan upaya Higiene Perusahaan Kesehatan (Hiperkes) & Keselamatan Kerja dalam proses produksinya. Latar belakang kunjungan dan kuliah umum ini oleh pihak PT. Cipta Kridatama sendiri adalah dalam rangka melaksanakan Corporate Social Responsibility (CSR) PT. Cipta Kridatama untuk ikut mencerdaskan Bangsa Indonesia Dan Menciptakan Peluang Kerja Yang layak Bagi Rakyat Indonesia. Selain itu secara khusus meningkatkan kerjasama PT. Cipta Kridatama dan Universitas Sebelas Maret Surakarta yang telah terjalin dengan : Recruitmen mahasiswa jurusan Hiperkes & Keselamatan Kerja sebanyak 38 orang ( sejak tahun 2007-2011) dengan jalur karier :

  1. OSHE Superintendent Head Office- Jakarta
  2. Area OSHE Manager-kalimantan
  3. OSHE Supervisor Project
  4. OSHE Coordinator Project
  5. OSHE Analyst Project

Bentuk kerjasama lain yang telah terjalin yaitu melalui program Magang /kerja praktek mahasiswa, riset mahasiswa jurusan Hiperkes & Keselamatan Kerja.

Bagi mahasiswa program studi D.III Hiperkes & Keselamatan Kerja, kuliah umum yang terselenggara kali ini merupakan salah satu point penting untuk semakin menambah wawasan tentang penerapan ilmu Hiperkes & Keselamatan Kerja di tempat kerja khususnya pada perusahaan pertambangan.

Materi yang diberikan oleh pihak perusahaan, yaitu :

  1. Operation system di bidang pertambangan (khususnya di tambang batubara yang dikelola oleh PT. CK)
  2. Occupational Safety Health & Environment System (OSHE System)
  3. Membangun diri untuk menjadi pribadi yang berkualitas

Diharapkan Kerjasama ini terus terjalin dengan baik sebagai salah satu upaya untuk semakin menggaungkan penerapan Hiperkes & Keselamatan Kerja di tempat kerja dan untuk meningkatkan kualitas pendidikan anak bangsa.

Yeremia Rante Ada on July 13th, 2011

Dalam Galatia 5:22-23
ditulis 9 buah-buah Roh.

1. kasih
2. sukacita
3. damai sejahtera
4. kesabaran
5. kemurahan
6. kebaikan
7. kesetiaan
8. kelemahlembutan
9. penguasaan diri

Yeremia Rante Ada on July 13th, 2011

  1. Bangunlah satu jam lebih awal untuk saat teduh
  2. Ampunilah orang lain, dan ulurkanlah tangan untuk perdamaian
  3. Jangan mencari kesalahan orang lain
  4. Ingatlah bahwa hari ini dapat menjadi hari terakhir Anda
  5. Kenakanlah kasih
  6. Jangan terpuruk pada masalah yang sedang Anda hadapi
  7. Tunjukkanlah kebaikan Anda kepada orang lain dengan penuh kerendahan hati
  8. Tingkatkanlah belas kasihan Anda kepada orang lain
  9. Hadapilah masalah dengan iman
  10. Dengan pertolongan Tuhan berusahalah untuk mengembangkan sembilan buah roh
Yeremia Rante Ada on July 11th, 2011

Undang-Undang No 1 Tahun 1970 tentang Keselamatan Kerja pada Pasal 1 menyatakan bahwa tempat kerja ialah tiap ruangan atau lapangan, tertutup atau terbuka, bergerak atau tetap, dimana tenaga kerja, atau yang sering dimasuki tenaga kerja untuk keperluan suatu usaha dan dimana terdapat sumber-sumber bahaya. Termasuk tempat kerja ialah semua ruangan, lapangan, halaman dan sekelilingnya yang merupakan bagian-bagian atau yang berhubungan dengan tempat kerja tersebut.

Setiap tempat kerja selalu mengandung berbagai potensi bahaya yang dapat mempengaruhi kesehatan tenaga kerja atau dapat menyebabkan timbulnya penyakit akibat kerja. Potensi bahaya adalah segala sesuatu yang berpotensi menyebabkan terjadinya kerugian, kerusakan, cidera, sakit, kecelakaan atau bahkan dapat mengakibatkan kematian yang berhubungan dengan proses dan sistem kerja. Potensi bahaya mempunyai potensi untuk mengakibatkan kerusakan dan kerugian kepada : 1) manusia yang bersifat langsung maupun tidak langsung terhadap pekerjaan, 2) properti termasuk peratan kerja dan mesin-mesin, 3) lingkungan, baik lingkungan di dalam perusahaan maupun di luar perusahaan, 4) kualitas produk barang dan jasa, 5) nama baik perusahaan.

Pengenalan potensi bahaya di tempat kerja merupakan dasar untuk mengetahui pengaruhnya terhadap tenaga kerja, serta dapat dipergunakan untuk mengadakan upaya-upaya pengendalian dalam rangka pencegahan penyakit akibat kerja yagmungkin terjadi. Secara umum, potensi bahaya lingkungan kerja dapat berasal atau bersumber dari berbagai faktor, antara lain : 1) faktor teknis, yaitu potensi bahaya yang berasal atau terdapat pada peralatan kerja yang digunakan atau dari pekerjaan itu sendiri; 2) faktor lingkungan, yaitu potensi bahaya yang berasal dari atau berada di dalam lingkungan, yang bisa bersumber dari proses produksi termasuk bahan baku, baik produk antara maupun hasil akhir; 3) faktor manusia, merupakan potensi bahaya yang cukup besar terutama apabila manusia yang melakukan pekerjaan tersebut tidak berada dalam kondisi kesehatan yang prima baik fisik maupun psikis.

Potensi bahaya di tempat kerja yang dapat menyebabkan gangguan kesehatan dapat dikelompokkan antara lain sebagai berikut :

  1. Potensi bahaya fisik, yaitu potensi bahaya yang dapat menyebabkan gangguan-gangguan kesehatan terhadap tenaga kerja yang terpapar, misalnya: terpapar kebisingan intensitas tinggi, suhu ekstrim (panas & dingin), intensitas penerangan kurang memadai, getaran, radiasi.
  2. Potensi bahaya kimia, yaitu potesni bahaya yang berasal dari bahan-bahan kimia yang digunakan dalam proses produksi. Potensi bahaya ini dapat memasuki atau mempengaruhi tubuh tenga kerja melalui : inhalation (melalui pernafasan), ingestion (melalui mulut ke saluran pencernaan), skin contact (melalui kulit). Terjadinya pengaruh potensi kimia terhadap tubuh tenaga kerja sangat tergantung dari jenis bahan kimia atau kontaminan, bentuk potensi bahaya debu, gas, uap. asap; daya acun bahan (toksisitas); cara masuk ke dalam tubuh.
  3. Potensi bahaya biologis, yaitu potensi bahaya yang berasal atau ditimbulkan oleh kuman-kuman penyakit yang terdapat di udara yang berasal dari atau bersumber pada tenaga kerja yang menderita penyakit-penyakit tertentu, misalnya : TBC, Hepatitis A/B, Aids,dll maupun yang berasal dari bahan-bahan yang digunakan dalam proses produksi.
  4. Potensi bahaya fisiologis, yaitu potensi bahaya yang berasal atau yang disebabkan oleh penerapan ergonomi yang tidak baik atau tidak sesuai dengan norma-norma ergonomi yang berlaku, dalam melakukan pekerjaan serta peralatan kerja, termasuk : sikap dan cara kerja yang tidak sesuai, pengaturan kerja yang tidak tepat, beban kerja yang tidak sesuai dengan kemampuan pekerja ataupun ketidakserasian antara manusia dan mesin.
  5. Potensi bahaya Psiko-sosial, yaitu potensi bahaya yang berasal atau ditimbulkan oleh kondisi aspek-aspek psikologis keenagakerjaan yang kurang baik atau kurang mendapatkan perhatian seperti : penempatan tenaga kerja yang tidak sesuai dengan bakat, minat, kepribadian, motivasi, temperamen atau pendidikannya, sistem seleksi dan klasifikasi tenaga kerja yang tidak sesuai, kurangnya keterampilan tenaga kerja dalam melakukan pekerjaannya sebagai akibat kurangnya latihan kerja yang diperoleh, serta hubungan antara individu yang tidak harmoni dan tidak serasi dalam organisasi kerja. Kesemuanya tersebut akan menyebabkan terjadinya stress akibat kerja.
  6. Potensi bahaya dari proses produksi, yaitu potensi bahaya yang berasal atau ditimbulkan oleh bebarapa kegiatan yang dilakukan dalam proses produksi, yang sangat bergantung dari: bahan dan peralatan yang dipakai, kegiatan serta jenis kegiatan yang dilakukan.

(Dirangkum dari berbagai sumber)

Yeremia Rante Ada on July 7th, 2011

Bekerja dengan tubuh dan lingkungan yang sehat, aman serta nyaman merupakan hal yang diinginkan oleh semua pekerja. Lingkungan fisik tempat kerja dan lingkungan organisasi merupakan hal yang sangat penting dalam mempengaruhi sosial, mental dan fisik dalam kehidupan pekerja. Kesehatan suatu lingkungan tempat kerja dapat memberikan pengaruh yang positif terhadap kesehatan pekerja, seperti peningkatan moral pekerja, penurunan absensi dan peningkatan produktivitas. Sebaliknya tempat kerja yang kurang sehat atau tidak sehat (sering terpapar zat yang berbahaya mempengaruhi kesehatan) dapat meningkatkan angka kesakitan dan kecelakaan, rendahnya kualitas kesehatan pekerja, meningkatkan biaya kesehatan dan banyak lagi dampak negatif lainnya.

Keselamatan dan kesehatan kerja dewasa ini merupakan istilah yang sangat populer. Bahkan di dalam dunia industri istilah tersebut lebih dikenal dengan singkatan K3L yang artinya keselamatan, kesehatan kerja dan lingkungan. Aspek lingkungan dalam kaitannya dengan kesehatan dan keselamatan juga merupakan hal yang penting.

Keselamatan (safety) biasanya selalu dikaitkan dengan keadaan terbebasnya seseorang dari peristiwa celaka (accident) atau nyaris celaka (near-miss). Keselamatan kerja adalah keselamatan yang berkaitan dengan mesin, pesawat, alat kerja, bahan dan proses pengolahan, landasan kerja, dan lingkungan kerja serta cara-cara melakukan pekerjaan dan proses produksi. Keselamatan kerja merupakan tugas semua orang yang berada di perusahaan atau tempat kerja, dengan demikian keselamatan kerja adalah dari, oleh, dan untuk setiap tenaga kerja dan orang lain yang berada di perusahaan atau tempat kerja serta masyarakat sekitar perusahaan/tempat kerja  yang mungkin terkena dampak akibat suatu proses produksi industri. Pada hakekatnya keselamatan sebagai suatu pendekatan keilmuan maupun sebagai suatu pendekatan praktis mempelajari faktor-faktor yang menyebabkan terjadinya kecelakaan dan berupaya mengembangkan berbagai cara dan pendekatan untuk memperkecil risiko terjadinya kecelakaan.

Umumnya manusia selalu mempunyai pekerjaan (work, occupation) dan sebagian besar waktunya berada dalam situasi bekerja sehingga dapat terjadi manusia akan menderita penyakit yang mungkin disebabkan oleh pekerjaannya atau menderita penyakit yang berhubungan dengan pekerjaannya. Oleh karena alasan tersebut kemudian berkembanglah ilmu yang dikenal dengan kesehatan kerja (occupational health).  Kesehatan (health) berarti terbebasnya seseorang dari penyakit, tetapi pengertian sehat mempunyai makna sehat secara fisik, mental dan juga sehat secara sosial. Dengan demikian pengertian sehat secara utuh menunjukkan pengertian sejahtera (well being). Kesehatan sebagai suatu pendekatan keilmuan maupun pendekatan praktis juga berupaya mempelajari faktor-faktor yang dapat menyebabkan manusia menderita sakit dan sekaligus berupaya untuk mengembangkan berbagai cara atau pendekatan untuk mencegah agar manusia tidak menderita sakit, bahkan menjadi lebih sehat.

Kesehatan kerja disamping mempelajari faktor-faktor pada pekerjaan yang dapat mengakibatkan manusia menderita penyakit akibat kerja (occupational desease) maupun penyakit yang berhubungan dengan pekerjaannya (work related disease) juga berupaya untuk mengembangkan berbagai cara atau pendekatan untuk pencegahannya, bahkan berupaya juga dalam meningkatkan kesehatan (health promotion) pada manusia pekerja tersebut.

Yeremia Rante Ada on June 28th, 2011

(Konstruktivistik 2011)

SEMANGAT KERJA

Semangat kerja sering disebut sebagai moral kerja atau etos kerja; dan diartikan sebagai watak atau cara berperilaku dalam hubungan kerja, yang berakar pada sistem nilai, adat dan kebiasaan masyarakat (Ravianto, 1985). Sutrisno Hadi mengutarakan bahwa semangat kerja adalah ciri kejiwaan yang sangat erat hubungannya dengan kepuasan kerja, ketenteraman kerja, dan keinginan untuk mempertinggi hasil kerja

Seseorang disebut mempunyai semangat kerja yang tinggi bila orang tersebut memiliki keterkaitan dalam menjalankan tugas yang besar dan mencurahkan seluruh usahanya serta merasa bahagia dalam pekerjaannya.

Seseorang dikatakan memiliki semangat kerja yang rendah bila orang tersebut merasa apatis, merasakan keengganan terlibat dalam pekerjaan, acuh tak acuh dalam pekerjaan maupun terhadap hasil kerjanya. Dengan memperhatikan semangat kerja yang merupakan faktor penting untuk meningkatkan produktivitas kerja.  Setyawati (1994) menyimpulkan bahwa terdapat hubungan negatif antara semangat kerja dengan kelelahan kerja.

Semangat kerja mempunyai 4 aspek, yaitu : team spirit, staying quality, enthusiasm, dan resistance to frustration. semangat kerja dapat juga dijabarkan sebagai berikut :

  1. Adanya kesediaan saling tolong menolong, keberhasilan seseorang dirasakan sebagai keberhasilan bersama, hubungan dengan teman sekerja maupun dengan pemimpin baik, merasa ikut memiliki dan bertanggung jawab serta bangga terhadap perusahaannya. Disamping hal-hal tersebut diatas pekerja juga mempunyai keinginan untuk mencapai tujuan perusahaannya.
  2. Keadaan pekerja yangtidak pernah berhenti berusaha untuk mencapai tujuan perusahaan
  3. Mampu melaksanakan hal-hal positif seperti yang dilakukan teman sekerjanya
  4. Adanya beberapa sikap seperti tegar menghadapi kegagalan, tidak mudah putus asa, mampu bertindak sempurna disamping jarang mengeluh.

Mengingat pentingnya semangat kerja dalam bekerja, semangat kerja perlu selalu mendapat perhatian. Dalam bidang ekonomi disebutkan bahwa keberhasilan suatu bangsa dipengaruhi oleh semangat warga negaranya.

(Sumber : Selintas Tentang Kelelahan Kerja, 2011. Lientje Setyawati K. Maurits. Amara Books. Yogyakarta)

(Sumber Gambar: Konstruktivistik 2011)

Yeremia Rante Ada on June 23rd, 2011

Kesehatan Kerja Pegawai Negeri

Kesehatan dalam Undang-undang Nomor 23 Tahun 1992 tentang kesehatan ialah keadaan sejahtera dari badan, jiwa dan sosial yang memungkinkan setiap orang hidup produktif secara sosial dan ekonomis. Dinyatakan pula oleh WHO, kesehatan adalah kesejahteraan fisik, mental, dan sosial, dan bukan sekadar tidak adanya penyakit, cacat, dan kelemahan. Pasal 4 UU Kesehatan menegaskan bahwa setiap orang mempunyai hak memperoleh derajat kesehatan yang optimal. Berpegang pada ketentuan tersebut setiap pegawai Negeri beserta keluarganya berhak pula atas derajat kesehatan yang optimal. Undang-undang tentang Kepegawaian Negeri menyatakan: “setiap Pegawai Negeri dan keluarganya pada waktu sakit dan melahirkan anak berhak mendapat bantuan dan setiap pegawai negeri, apabila mendapat kecelakaan dan/atau cacat ataupun meninggal dunia mendapat bantuan. Derajat kesehatan yang optimal dapat dicapai dengan terpenuhinya: Pangan yang memenuhi syarat kesehatan, Sandang yang memadai, Perumahan dan transportasi yang memenuhi syarat kesehatan, Pemeliharaan kesehatan dan pencegahan penyakit, Pengobatan dan perawatan penyakit, Penyediaan obat-obatan,Pendidikan dan pelatihan tentang kesehatan. Jelas bahwa derajat kesehatan yang optimal pada pegawai negeri tidak cukup hanya dicapai dengan upaya khusus medis semata, tapi titik berat justeru di bidang yang lain yaitu pangan, perumahan, transportasi yang pada akhirnya tergantung dari gaji dan jaminan kesejahteraan lainnya. Kesehatan pegawai Negeri terutama bertitik tolak pada terselenggaranya kesehatan minimum, melalui upaya pemeliharaan kesehatan serta upaya kesehatan preventif, kuratif, dan rehabilitatif, yang penyelenggaraannya dilakukan melalui sistem asuransi sehingga pegawai negeri tidak usah membayar langsung sendiri. Adapun upaya kesehatan dan higiene kerja yang antara lain beraspek mencegah kelelahan kerja, meningkatkan efisiensi telah mulai dalam taraf perhatian dan dilaksanakan oleh masing-masing instansi menurut keperluan. Upaya menerapkan kesehatan kerja oleh instansi yang bersangkutan berdasarkan alasan tentang besar dan mendesaknya kebutuhan untuk meningkatkan efisiensi dan produktivitas pelayanan sektor pemerintah. Untuk itu kegiatan yang bersifat memelopori upaya kesehatan dan higiene kerja telah banyak dimulai. Masih perlu cukup waktu untuk menyaksikan hasil spektakuler dari upaya tersebut.

Penyakit Akibat Kerja

Umumnya Pegawai Negeri melakukan pekerjaan kantor, sehingga persyaratan kesehatan kerja bagi Pegawai Negeri harus disesuaikan dengan persyaratan untuk pekerjaan demikian. Terutama penting untuk pekerjaan kantor adalah ukuran perlengkapan kantor dan peralatan kerja, antara lain meja, kursi, mesin tik, komputer dan lainnya. Meja ketik harus lebih rendah dari meja kerja. Postur kerja dan posisi mata ditempatkan sedemikian rupa sehingga operator merasa nyaman bekerja dengan komputernya. Ukuran perlengkapan kantor dan peralatan kerja harus sesuai dengan ukuran antropometris pegawai negeri yang bersangkutan. Penyakit atau gangguan kesehatan oleh karena ketidakcocokan ukuran tersebut berupa keluhan pegal pundak, biasanya sebelah kanan, nyeri dada, kelelahan, nyeri punggung bawah, sakit pinggang dan lain-lain. Bekerja dengan komputer yang tidak mempertimbangkan aspek ergonomis menyebabkan keluhan mata dan pusing yang sangat menggaggu. Demikian pula lingkungan kerja harus kondusif bagi aktivitas pekerjaan perkantoran, seperti pengaturan suhu udara ruang kerja yang umumnya telah menggunakan AC, penerangan lampu yang memadai bila sinar alami tidak mencukupi, ventilasi udara sesuai dengan kebutuhan. Penggunaan AC terutama penting di daerah yang udaranya panas. Pada pekerjaan perkantoran faktor kimiawi mungkin timbul sebagai akibat beroperasinya alat-alat kantor elektris. Bakteri atau endotoksinnya dapat menyebabkan demam kepada orang-orang yang menghirup udara dari AC.

Kadang-kadang bekerja sebagai Pegawai Negeri membawa aspek sosial dan psikologis yang khusus, misalnya salah pilih pekerjaan atau ketidakharmonisan dengan kawan sekerja atau perselisihan dengan atasan. Penurunan pangkat atas dasar hukuman jabatan menyebabkan depresi. Untuk mengurangi gangguan seperti itu harus dipatuhi prinsip kepegawaian bahwa jabatan dan kepangkatan wajib mengikuti sistem prestasi dan pelaksanaan yang bersangkutan dengannya berjalan secara obyektif didasarka atas kecakapan, masa kerja, disiplin kerja dan factor penilaian lainnya.

Selain itu seorang Pegawai Negeri mungkin menghadapi risiko menderita penyakit atau kecelakaan yang khusus menurut jenis pekerjaan dan lingkungan kerjanya, seperti pekerjaan laboratorium menghadapi risiko keracunan atau terkena penyakit yang bibitnya berada pada bahan yang diperiksa, bekerja pada suatu reactor atom disertai risiko gangguan kesehatan oleh bahan radioaktif, pekerjaan kurir berisiko mengalami kecelakaan kerja. Untuk pekerjaan demikian sangat perlu diselenggarakannya jaminan kecelakaan kerja dan penyakit akibat kerja, juga sangat penting upaya pencegahan yang dilakukan oleh tiap pegawai negeri terhadap bahaya yang mungkin timbul dari pekerjaannya.

(Sumber : DR. Suma’mur P.K., M.Sc. 2009. Higiene Perusahaan dan Kesehatan Kerja (HIPERKES). Sagung Seto. Jakarta)

Yeremia Rante Ada on June 23rd, 2011

Hari depan Higiene perusahaan dan kesehatan kerja sangat cemerlang, oleh karena tuntutan kekaryaan dan dedikasi kepada lapangan kesehatan yang mempunyai nilai ekonomis tinggi ini kian tumbuh dan berkembang sesuai dengan semakin bertambahnya jumlah industri dan berlangsungnya proses industrialisasi. Tumbuh kembangnya industri dan keberhasilan program industrialisasi adalah syarat mutlak kemajuan bangsa. Dalam menghadapi kemungkinan terjadinya dampak negatif dari proses industrialisasi sangat tepat apabila kita senantiasa mempersiapkan diri dan benar-benar siap agar tidak terulang kesalahan-kesalahan sebagaimana pernah dialami oleh negara lain. Jika segala sesuatunya direncanakan dengan baik termasuk melaksanakan hiperkes dan keselamtan kerja maka kemungkinan timbulnya malapetaka industri pasti dapat dihindari.

Hiperkes merupakan suatu aspek kesehatan masyarakat yang hendaknya diperhatikan mengingat pada masyarakat kita saat ini mulai terjadi perubahan kehidupan agraris menjadi industrial-agraris. Perubahan ini menyebabkan berubah pula sifat kesehatan masyarakat dan cara pendekatannya. Cara pendekatannya lebih terfokus kepada interaksi faktor manusia dengan pekerjaan dan lingkungan kerjanya dengan segala kemungkinan efeknya yang tidak dikehendaki. Sehubungan dengan itu perlu keseimbangan antara kemajuan pelaksanaan higiene perusahaan dan kesehatan kerja dengan laju suksesnya pembangunan.

Penyelenggaraan higiene perusahaan dan kesehatan kerja memberi manfaat besar bagi kesejahteraan tenaga kerja. Demikian pula aspek produktivitasnya. Semakin produktif suatu perusahaan kian banyak memetik faedah dari penyelenggaraan higiene perusahaan dan kesehatan kerja. Aspek kesejahteraan dan produktivitas pada tempatnya terus ditrapkan dan dimanfaatkan, karena kedua aspek inilah yang mewujudkan tenaga kerja selaku sumber daya manusia sehat dan produktif serta tidak dihinggapi penyakit akibat kerja dan tidak ditimpa kecelakaan kerja

Profesi higiene perusahaan dan kesehatan kerja berkembang cukup pesat. Lebih dari 20.000 dokter bekerja untuk perusahaan, baik sebagai tenaga tetap atau part-time. Puluhan ribu perawat dan paramedis lainnya telah berada dan bekerja di klinik-klinik perusahaan atau fasilitas kesehatan perusahaan lainnya. Ratusan insinyur dan teknisi mulai menunjukkan minatnya terhadap lapangan keahlian yang mensyaratkan terbinanya koordinasi sumber daya insani teknis-teknologis dan medis. Walaupun tidak diketahui jumlahnya, tapi telah banyak ahli-ahli ergonomi, psikologi industri, atau ahli lainnya yang aktif berperan dalam menjalankan profesi kesehatan yang melayani tenaga kerja tersebut. Demikian pula perhatian pengusaha dan pekerja kian hari menjadi semakin besar atas dasar kesadarannya akan manfaat penerapan hiperkes. Dunia pendidikan menghadapi tantangan besar untuk mengupayakan agar engineering higiene industri dan keselamatan kerja mendapat tempat yang semestinya dalam pendidikan kita (Suma’mur, 2009)

(Sumber : DR. Suma’mur P.K., M.Sc. 2009. Higiene Perusahaan dan Kesehatan Kerja (HIPERKES). Sagung Seto. Jakarta)

Skip to toolbar